Suster Imelda Kelulu, MSC

Photo: Dokumen Pribadi

Kesederhanaan dan Kesetiaan

Oleh Agem

Senyum dan tawa lepas selalu menghiasi wajahnya yang bulat ketika beliau berbicara dengan orang sekitarnya. Pembawaanya santai, sederhana dan bicara ceplas-ceplos, ciri khas dari suster kelahiran Manggarai, Flores – Nusa Tenggara Timur.

Anak ke 4 dari 8 bersaudara (6 perempuan dan 2 laki-laki) pasangan Adolfus Tam dan Bibiana Nembung ini lahir pada tanggal 28 Mei 1986. Sejak kecil beliau tumbuh dan mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di kampungnya di Ruteng, sebuah wilayah kecamatan Langke Rembong, kabupaten Manggarai.

Mendapat pendidikan Katolik di Sekolah Dasar Kumba II Ruteng dan memiliki kedua orang tua yang sangat giat dalam pelayanan gereja telah menumbuhkan kekuatan dan pengalaman iman tersendiri bagi gadis yang memiliki nama lengkap Imelda Kelulu. Meski sejak muda gemar sekali membaca buku novel kisah percintaan, setamat SMA tahun 2005 beliau memutuskan untuk memantabkan hati menjawab panggilan Tuhan. Kongregasi Missionaris Lambung Kudus Yesus atau Missionarie del Sacro Costato (MSC), yang saat itu baru memulai misi mereka di Ruteng telah membuatnya jatuh cinta. Hatinya pun tertambat – Suster Imelda kini menjalani kisah kehidupan cintanya sendiri.–

Satu tahun sejak bergabung dalam kongregasi itu, bersama dengan empat rekannya beliau diutus ke Itali untuk memulai masa formasi pembentukan dirinya sebagai pelayan Tuhan. Diawali dengan memasuki tahap Postulan, tahap awal dalam pembinaan calon biarawati atau biarawan Katolik di Roma, 1 Mei 2006. Kemudian lanjut tahap Novisiat di Castel Gandolfo, Itali pada 1 Mei 2007. Tahap Novisiat ini adalah periode pelatihan dan perkenalan awal yang intensif bagi calon anggota ordo keagamaan (biarawan/biarawati), di mana mereka mendalami spiritualitas, aturan, dan kehidupan bersama sebelum mengucapkan kaul pertama, biasanya berlangsung 1-2 tahun. Selama masa ini, para novis (sebutan bagi mereka yang menjalani novisiat) diajak mengenal komitmen hidup religius secara mendalam, mempersiapkan diri secara fisik dan rohani untuk hidup selibat dan pelayanan, dibimbing oleh Pembina. Dan akhirnya menerima Kaul Pertamanya tanggal 31 Mei 2009 di Castel Gandolfo, Italia. Dan akhirnya meng-ikrarkan Kaul Kekal pada tanggal 24 September 2016 di Gravina, Itali.

Postulat dan Novisiat – (Photo dokumen pribadi)

Suster yang mengaku suka tertidur saat pelajaran sekolah ini telah berhasil mengantongi ijasah strata satu (S1) dalam bidang Filsafat dan Teologi di Pugliese Theological Faculty - Instituto Teologico Santa Fara, Bari (2014-2019), kemudian melanjutkan studi strata dua (S2) dan berhasil mendapatkan gelar dalam bidang Hukum Kanonik di Fakultas Hukum Kanonik, Pontifical University Antonianum di Roma yang ditempuhnya selama 3 tahun (2020-2023).


_Meski sering tidur waktu pelajaran tapi suster bisa selesain S2 yah?_

“Saya sebenarnya tidak tidur. Hanya bosan saja, dan kemudian jadi mengantuk,” jelasnya dengan logat khas daerahnya sambil tertawa lebar.

_ Loh, bukannya kalau mengantuk bisa tidur?_

_ “Hahahaha….Iya, itu!” Tawanya pun seketika menggelegar._


-000-

Bersama Paus Francis - (Photo dokumen pribadi)

_Ceritain sedikit tentang kenangan masa remaja suster di kampung halaman?_

“Waktu di kampung dulu saya sangat tertarik dengan kesenian dan musik tradisonal Nusa Tenggara yang banyak menggunakan alat musik seperti gendang dan gitar. Saya sempat belajar cara memukul dan memainkan gendang,” jawabnya

“Saya suka menyanyi dan bermain gitar. Saya belajar gitar dari sepupu saya.” tambahnya lagi.

Bagi kita yang mengenal suster Imelda tak akan ragu dengan kemampuan olah vocal yang dimilikinya. Suara beliau merdu sekali. Menurutnya, kemampuan olah suara ini juga dimiliki oleh semua saudara-saudaranya. Bakat ini diturunkan dari kedua orang tuanya yang giat bergabung dalam kelompok koor gereja.

Semasa sekolah bahkan beliau sempat membentuk kelompok musik bersama teman-temannya yang diberi nama “Reba Molas Manggarai”, yang berarti Tampan dan Cantik dalam bahasa Manggarai.

“Hahaha….jadi lucu kalau saya ingat dulu. Kami terdiri dari laki-laki tampan dan perempuan-perempuan cantik.” Tawanya ngakak.

“Kini mereka semua entah kemana. Pergi merantau. Hanya saya yang menjadi biarawati,” lanjutnya.

Pelesir ke Golden Gate Bridge dan Palace Of Fine Art, San Francisco. – (Photo dokumen pribadi)

Pelesir ke Bali – (Photo dokumen pribadi)

_Apa yang mendorong suster untuk jadi biarawati?_

“Dorongan utama saya untuk memilih hidup membiara adalah kerinduan mendalam untuk menjadi seorang "misionaris". Pada awalnya, saya memahami hal tersebut sebagai kesempatan untuk menjelajahi dunia dan melayani Tuhan Yesus dalam berbagai karya. Namun, seiring waktu, Tuhan secara lembut menyadarkan saya bahwa hakikat menjadi misionaris bukanlah tentang pergi ke tempat-tempat eksotis, melainkan tentang ketersediaan hati untuk diutus kapan saja dan di mana saja sesuai kehendak-Nya. Panggilan ini adalah undangan untuk masuk ke dalam dinamika kasih Tritunggal Mahakudus, di mana saya belajar menyerahkan kehendak pribadi dan membiarkan diri menjadi alat belas kasih-Nya bagi dunia. Hidup membiara bagi saya adalah jawaban atas panggilan kasih Allah, dan menjadi missionaris adalah bentuk nyata dari penyerahan diri kepada rencana ilahi demi kemuliaan-Nya dan keselamatan jiwa-jiwa”.


_Waktu di Roma, Itali suster ngerjain apaan sih?_

“Awalnya saya memulai karya kerasulan dengan melayani para suster lansia di salah satu komunitas kami di Gravina (South Italy), serta menjadi katekis di paroki. Kemudian saya melanjutkan studi S1 di bidang teologi dan S2 di bidang hukum kanonik. Selama masa studi, saya juga membantu di komunitas, di sekolah, dan di paroki. Pelayanan di Italia memperkaya hidup rohani saya, karena saya belajar mencintai Tuhan melalui studi, pelayanan, dan hidup komunitas. Dalam setiap tugas, saya merasakan bahwa Allah senantiasa menyertai dan membimbing langkah saya untuk menjadi saksi kasih-Nya..”


_Apa tugas suster di sini sekarang?_

“Tanggal 23 Maret 2024 saya diutus untuk berkarya di Burlingame, California. Di Paroki St Catherine Siena. Saat ini saya melayani di sekolah, paroki, dan Keuskupan San Francisco, menggabungkan pelayanan rohani, pendidikan, dan karya pastoral dalam semangat misi.”

Menurut beliau, aturan ordo penugasan bisa berlangsung 1 sampai 3 tahun tetapi itu semua tergantung dari keputusan Superior General, otoritas tertinggi biara yang beliau panggil Mother General.

“Suara mother general itu seperti suara Tuhan, harus kita patuhi,” jawabnya sambil tersenyum.


_Jadi mau ngapain aja harus dengerin dan ikutin apa kata superior?_

“Iya, benar! Maka itu sulit sekali meninggalkan tugas di biara. Kalau mau ikut kegiatan atau misa WKICU saya harus tunggu tugas sudah selesai semua. Itupun barangkali beliau mau kasih ijin, tetapi kalau tugas belum selesai, yah hampir tidak mungkin,” terangnya.


_ Suster sudah bilang kalau ada komunitas Katolik Indonesia di sini?_

“Sudah! Superior saya malah bilang; kita para suster di sini ini adalah komunitas kamu,” balasnya.

“Saya kangen dan senang berkumpul dengan sesama orang Indonesia di sini. Saya kangen makanan Indonesia seperti Tahu dan Bakwan goreng bikinan Ruthy,” celotehnya sambil tersenyum.

Sejak penugasannya di Bay Area suster Imelda memang lebih sibuk dan dituntut banyak. Sewaktu berada di Itali segala sesuatu keperluan hari-hari sudah ada yang mengurus, termasuk makan mereka. Di Amerika ini, di komunitasnya sekarang terdapat 4 orang suster, beliau harus ikut memasak makanan yang dilakukan secara bergilir. Selain memasak para suster juga harus mengerjakan sendiri segala sesuatunya.

“Saya tidak pernah masak waktu di Itali, dan memang saya tidak bisa masak. Baru di sini saya belajar memasak,” jelasnya.

Bersama suster satu asrama saat ini. Dari kiri, Sr. Maria Dong Chao (China), Sr. Amy Adao (Filipina), Sr. Corina Catalano (Italy) dan Sr. Imelda Kelulu (Indonesia) – Photo Dokumen Pribadi.

-00O00-

“Tuhan secara lembut menyadarkan saya bahwa hakikat menjadi misionaris bukanlah tentang pergi ke tempat-tempat eksotis, melainkan tentang ketersediaan hati untuk diutus kapan saja dan di mana saja sesuai kehendak-Nya. Panggilan ini adalah undangan untuk masuk ke dalam dinamika kasih Tritunggal Mahakudus, di mana saya belajar menyerahkan kehendak pribadi dan membiarkan diri menjadi alat belas kasih-Nya bagi dunia. Hidup membiara bagi saya adalah jawaban atas panggilan kasih Allah, dan menjadi missionaris adalah bentuk nyata dari penyerahan diri kepada rencana ilahi demi kemuliaan-Nya dan keselamatan jiwa-jiwa”.



Next
Next

Suka Cita Romo Fransiskus Assisi Santoso, SVD