Apa dan Siapa WKICU admin Apa dan Siapa WKICU admin

Pelayan Penabur Kasih (Bagian 1)

“Apakah kamu tidak berminat untuk lebih serius membantu dan melayani gereja dengan menjadi deacon?” tanya mereka.

Ditulis oleh Agem

Hampir dua bulan yang lalu, saya ditahbiskan menjadi Deacon di Cathedral of Saint Mary of the Assumption di San Francisco. Perjalanan panjang ini berawal sekitar 6 tahun lalu. Pada suatu pertemuan di sebuah acara ulang tahun salah satu umat WKICU, Romo Effendi Kusuma Sunur S.J. dan Deacon Oey Hock Chuan menghampiri dan bertanya kepada saya: 

 “Apakah kamu tidak berminat untuk lebih serius membantu dan melayani gereja dengan menjadi deacon?” tanya mereka.

Perbincangan tentang itu berlangsung hanya sekitar 30 menit, tetapi dari pertemuan itu mampu memberikan kekuatan yang menggerakkan saya. Dua hari setelah itu saya mulai mencari informasi mengenai pendaftaran menjadi calon deacon. Proses ke arah itu cukup lama, karena ternyata pendaftaran sudah ditutup untuk tahun itu.  Satu tahun kemudian saya mencoba mendaftar kembali, dan akhirnya Keuskupan Agung San Francisco mengijinkan saya untuk mulai mengikuti pendidikan deacon.  

Tidak bisa dipungkiri, peran besar Romo Effendi dalam merekrut saya, tapi Deacon Hock Chuanlah yang benar-benar menginspirasi saya.  

Pada saat pendidikan deacon, Deacon Hock Chuan bekerja di tiga perusahaan. Beliau adalah suami dari Tante Swan Oey dan ayah dari James Oey. 

Deacon Hock Chuan memasuki sekolah deacon dengan tidak mudah karena sudah melewati batas usia yang ditetapkan, tapi Uskup John Cummings (Uskup Oakland pada waktu itu) memberikan dispensasi. Dengan semangat yang luar biasa, beliau menyelesaikan pendidikan deacon itu dan ditahbiskan pada tahun 2000.  Hebat kan?!

 Mengenang cerita beliau, Deacon Hock Chuan baru dibaptis menjadi Katolik itu pada usia 42 tahun dan lalu terpanggil menjadi deacon pada usia yang tidak muda juga. Perjalanan rohani beliau ini seperti pepatah: tidak peduli kapan anda memulai, tetapi yang lebih penting adalah di mana anda mengakhirinya. 

Suami yang baik, ayah yang bijaksana, pekerja keras dan pelayan gereja yang setia. Inilah jejak Deacon Hock Chuan yang ingin saya ikuti.   

———-000———

** Tulisan di atas adalah kiriman dari Iwan Soegiharto yang kami terima sebelum merampungkan tulisan ini. Kami pikir sangat bagus jika tulisan beliau sendiri menjadi pembuka. Tulisan ini memberikan arti, pesan dan makna yang mendalam sebagai awal tulisan.

*Photo kami yang diambil oleh Irwan Sie pada hari pentahbisan saya. Deacon Hock Chuan yang sudah pensiun dari kegiatan aktif membantu gereja dan saya yang baru saja memulai tugas itu. Tante Swan memberi tema foto ini: The Young and The Restless.

Iwan Soegiharto, lahir di Malang, Jawa Timur pada tanggal 6 Februari 1969.  Anak nomor sembilan dari sepuluh saudara pasangan Robertus Soekamto dan Theresia Halimah ini adalah anak lelaki paling kecil. Dan sebagai anak laki paling kecil, meski bukan anak bontot Iwan merasa sangat beruntung karena disayang oleh orangtua dan saudara-saudaranya.

Iwan bersama lima kakak lelaki dan empat saudara perempuannya tidak dibesarkan secara khusus Katolik, tapi lebih pada perpaduan budaya Tionghoa, Kalimantan dan Jawa. Kedua orangtuanya mengurus dan merawat anak-anaknya dengan sangat baik, penuh kasih sayang. Meski memiliki keyakinan sendiri, orangtua Iwan tetap memasukkan anak-anaknya ke sekolah Katolik. Dari situlah iman Katolik tumbuh dan merengkuh seluruh keluarganya. 

“Kakak pertamaku yang mengenalkan ajaran Katolik di keluarga. Ayah dan Ibuku adalah orang terakhir yang dibaptis setelah anak-anaknya. Aku itu lahir dari keluarga yang gak kenal agama,” kenang Iwan.

Adapun Stephanus Supriyadi Wiratno, kakak sulung di keluarga yang membuat Iwan kecil mau dibaptis sewaktu masih kelas enam SD. Kakak pertamanya ini sudah duluan menjadi Katolik dan hari-harinya sangat sibuk dengan kegiatan gereja. Pengaruh iman dari kakaknya mampu membuat seluruh keluarga, termasuk orangtuanya menjadi Katolik. Yang menarik adalah, dari enam orang anak laki-laki di keluarga, hanya Iwan-lah yang rupanya pernah berpikiran untuk menjadi romo. Diakuinya, sejak dibaptis keinginan menjadi biarawan itu semakin membesar hingga saat kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP), Iwan pernah mengutarakan niatnya kepada sang Ibu untuk masuk sekolah seminari dan ingin menjadi seorang romo. 

Mendengar itu, sang Ibu yang saat itu belum menjadi Katolik tak mampu menahan tawa, memandangnya penuh kasih dan berkata, “Kamu baru putus sama pacarmu yah? Jangan karena putus pacar langsung mau jadi romo. Kamu lihat itu kakakmu, gonta-ganti pacar. Putus cari lagi, putus cari lagi….” jawab sang Ibu dengan tawa berderai.

“Waktu itu salah satu kakakku memang bagai Arjuna mencari cinta. Pacarnya buanyak dan gonta-ganti,” jelas Iwan sambil tertawa ngakak. 

“Saatnya salah dan gak tepat aja waktu aku bilang itu. Sejak itu keinginan menjadi romo kandas. Gak pernah ada lagi. Hahahaha…,” sambungnya sambil geleng-geleng kepala. 

Sebagai anak bontot nomor dua, Iwan merasa sangat beruntung karena begitu mendapat perhatian dan dukungan penuh dari kakak-kakaknya. Kuliahnya di San Francisco State University hingga berhasil meraih gelar di bidang business tak lepas dari usaha patungan kakak-kakaknya itu.  

“Semua kakakku banyak membantu baik dalam biaya sekolah maupun doa yang tidak pernah putus,” jelasnya.

Sebelum menginjakkan kaki dan melanjutkan sekolah di Amerika, Iwan telah lulus dari Universitas Brawijaya fakultas Ekonomi.  Sempat bekerja di Asuransi Wahana Tata mengurusi klaim sambil merawat sang Ibu yang sedang sakit. Iwan tetap bertahan dan tidak berpikir untuk pergi jauh demi menunggui dan merawat sang Ibu, hingga beliau meninggal dunia tahun 1995 di sebuah rumah sakit di Jakarta. 

Sepeninggalan sang Ibu, Iwan merasa tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di Indonesia, maka ketika kakak-kakaknya menawarkan untuk melanjutkan sekolah di Amerika, tanpa pikir panjang dia setuju. Di sinilah awal perjalanan hidup menuntunnya hingga ber-transformasi menjadi seorang deacon .

—-000—-

Berikut adalah wawancara santai Ebulletin dengan Iwan Soegiharto:


Ebulletin: Bisa cerita bagaimana awalnya terlibat di WKICU?

“Aku datang ke California tahun 1995 setelah Ibu meninggal. Aku ke sini menyusul kakakku nomor delapan yang sudah lebih dulu sekolah di sini,” terang Iwan membuka perbincangan.

“Dari dialah aku kenal WKICU. Kakakku itu pernah mendapat telpon dari salah seorang tante, kalau gak salah dari tante Swan Oey mengenai adanya kelompok Katolik Indonesia. Waktu itu di San Francisco ada perkumpulan doa Rosario di rumahnya tante Louis. Aku dan kakakku datang dan bertemu para tante dan om di situ. Tidak ada anak mudanya. Sejarah awal perkenalanku dengan WKICU dimulai lewat para om dan tante.”


Ebulletin: Pertemuan doa Rosario di San Francisco itu menjadi awal?

“Ya itu, para tante dan om dari situ akhirnya mengajak aku untuk ikut misa. Misa WKICU waktu itu di San Francisco. Pengaturan kerjanya gak seperti sekarang, waktu itu gak jelas karena belum ada ketua wilayah, jadi yang mengurusi wilayah juga gak jelas sementara umat yang misa di gereja St Stephen cukup banyak. WKICU belum membagi misa menjadi tiga wilayah. Kayaknya setelah San Francisco, baru ada misa di Union City dan setelah itu Santa Clara yang terakhir.” jelasnya.

“Waktu itu selain para om dan tante, banyak anggota yang sudah tua-tua juga di sana. Aku masih bujangan, masih punya banyak tenaga, jadi aku hanya ingin membantu mereka. Aku kasihan, gak sampai hati kalau diam dan gak ngapa-ngapain. Pertama kali misa itu aku langsung dimintain tolong mengurus sakristi karena orang yang biasa mengurus akan kembali ke Indonesia. Aku di-training sama dia, tetapi yah itu, setelah dia pulang ke Indonesia akhirnya malah gak cuma urus sakristi dan altar…. juga buka gereja, photo copy teks misa, urus konsumsi, ambil makanan, sampe bersihin hall dan kamar mandi setelah selesai acara ramah tamah. Waktu itu ambil makanan dari ci Wenny dan bawa ke gereja,” sambungnya.

“Aku juga jadi seksi penjemputan, maksudnya supir antar jemput orang-orang tua yang gak bisa ke gereja, termasuk antar jemput orang-orang Indonesia yang baru datang dan mau ikut misa – coba kamu tanya ko Tony dan ci Wilsa, dulu aku sempat antar jemput mereka dan ketiga anaknya waktu baru datang dari Indonesia. Setiap misa aku datang paling dulu dan pulang paling belakangan karena masih harus bersih-bersih dan mengantar kembali orang-orang yang aku jemput. Semuanya nyaris aku kerjakan sendiri. Kadang satu dua orang ikut membantu. Aku sampai gak sempat ikut misa, jadi aku misa dulu hari Sabtunya,” tambahnya lagi. 


Ebulletin: Kepedulian dan pelayanan yang sungguh luar biasa, meskipun terkesan semua karena kasihan dengan para tante dan om-om?

“Mulanya memang mungkin dari kasihan dulu. Aku kasihan dengan (almarhumah) tante Eva, aku kasihan dengan om Lucas dan tante Martha dan aku kasihan dengan umat yang sudah tua-tua itu…Tuhan bisa menyentuh kita dari perasaan kasihan itu tadi, dan akhirnya terpupuk menjadi rasa belas kasih. Belas kasih akan mewujudkan tindakan yang dapat menjadi kepanjangan tangan Tuhan,” jawabnya serius.

“Bicara soal kasihan, dalam tugasku membantu WKICU, suatu ketika aku dipanggil suster Mary Catherine Boudreau. Suster Cathy ini adalah suster bule yang membantu WKICU mengurus RCIA. Waktu itu beliau dibantu Evy, istrinya Aming (Lime Tree). Suster Cathy ini pernah bekerja 13 tahun di Indonesia. Beliau minta tolong aku untuk mengajar salah satu topik RCIA. Aku iya-kan permintaan itu. Lagi-lagi karena aku kasihan sebab beliau sudah tua. Hahaha…,” lanjutnya.

“Suster Cathy akhirnya pensiun dan pindah ke New Jersey. Karyanya dilanjutkan oleh Evy Pranoto dan Maya Desiana. Setelah itu, aku menggantikan mereka.” katanya menambahkan.


Ebulletin: Loh, kakakmu yang memperkenalkan malah kabur. Gak ikut bantu?

“Dia balik ke Indonesia gak lama setelah aku datang. Boss tempat dia bekerja dulu menelponnya untuk kembali kerja. Kalau gak salah dia malah belum menyelesaikan gelar Masternya dan baru menyelesaikannya di Australia setahun kemudian.”


Ebulletin: Memang kadang berkah dan musibah bisa datang bersamaan. Bergabungnya kamu di WKICU itu berkah sekaligus musibah buat kamu yah?

“Hahaha…. aku gak melihatnya begitu kok. Aku hanya bersyukur atas berkat dan rejeki yang telah aku terima selama aku di sini. Kebutuhanku sudah tercukupi dari Senin sampai Sabtu. Aku memang niat untuk menyediakan hari Minggu khusus untuk Tuhan. Sabtu aku agak longgar jadi sempat misa dulu di paroki-ku, St. Cecilia. Besoknya aku datang lagi ke gereja St. Stephen untuk membantu dan melayani WKICU. Kalau cuma ikut misa, yah belum melayani Tuhan namanya…”

“Sejak terlibat di WKICU, satu-dua tahun setelah datang ke San Francisco (tahun 1996-1997), aku merasakan dituntun oleh Tuhan. Seperti ada kekuatan yang selalu menggerakkan aku untuk terus melayani. Waktu itu Om Hok Chuan (sebelum menjadi deacon) yang menjadi ketua WKICU.

Romo Hartono Budi, S.J. adalah romo yang aku kenal pertama sebagai pembimbing WKICU. Selama belajar di Berkeley, Romo Hartono lebih suka kita jemput karena dengan demikian ada kesempatan berkomunikasi lebih banyak. Kalau misa di Union City, aku jemput beliau dan kita banyak berbagi cerita,” kenangnya.

“Untuk Union City aku masih bisa jemput romo Hartono, tetapi untuk San Francisco sudah gak kepegang. Untungnya Om Haribowo dan om-om yang lain bersedia bergantian antar jemput beliau dari Berkeley ke SF.”

“Oh Yah, aku dulu juga pernah menjadi wakil ketua Mudika ketika Betti (Magoolaghan) menjadi ketuanya, dan di situlah aku ketemu istriku, Lily,” tambahnya


Ebulletin: Ada suka duka yang bisa diceritakan?

“Dulu mobilku itu mobil bekas yang umurnya sudah 10 tahunan. AC-nya rusak, gak nyala. Kalau aku mengantar jemput umat, mengantar Romo, om-om dan tante pas waktu musim panas, apalagi pas sedang kena macet, para penumpang di dalam mobilku itu pada kayak ikan mas kepanasan. Ngap-ngap…. ha ha ha,” tawa Iwan membahana.


Ebulletin: Kesal dan capek hati dong ngerjain kerjaan sebanyak itu?

“Rasa kesal dan capek hati itu wajar menurut aku, tetapi aku selalu ingat niat awal yaitu untuk melayani Tuhan. Aku hanya ingin memastikan semua berjalan lancar dan umat bisa ikut misa, karena dengan begitu aku telah membantu mempersiapkan segala sesuatu untuk kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita.”


Ebulletin: Melayani Tuhan dengan setia dan semangat seperti kamu ini bisa menjadi inspirasi. Seperti inspirasi yang kamu dapat dari sosok deacon Hok Chuan. Bisa berikan “pencerahan” untuk umat kita yang masih ogah dan sulit sekali jika diminta membantu melayani WKICU? 

“Jangan takut, jangan malas dan jangan ragu untuk melayani Tuhan. Gak cuma di WKICU, di gereja kamu atau di mana aja. Pegang satu niat bahwa ini hanya untuk Tuhan. Jika memang bantuan atau layanan yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, pasti kita akan dibantu olehNya,” jawabnya.

“Jadikan ini pribadi, antara kita dengan Tuhan. Seperti kalau kita doa…berdoa itu berdialog dengan Tuhan. Tetapi, untuk kita lebih dekat dan mengenal Tuhan secara pribadi tentu tidak hanya cukup dengan dialog, tetapi juga harus berjalan bersama Dia. Berbuat sesuatu dalam pelayanan itu seperti berjalan bersama Dia. Maka bilang “ya” dulu kalau diminta untuk melayani Tuhan, jangan pikir soal untung rugi, jangan pikir nanti gak ada waktu, nanti repot, gak bisa, gak ngerti dan macem-macem. Seperti apa yang aku alami selama melayani. Aku gak berpikiran terlalu ruwet. Aku jalanin aja… Ketika aku menjawab “ya”, aku yakin Tuhan akan memberikan banyak bantuan. Aku merasakan dan mengalami itu soalnya.”

“Waktu menerima saran romo Effendi dan deacon Hok Chuan menjadi deacon, juga begitu. Aku cari informasi dan daftar dulu aja, soal kendala dan apakah akan jadi deacon atau tidak, gak aku pikirin. Jadi deacon itu bukan hal gampang loh, pendidikannya 5 tahun. Disamping keluarga yang masih menjadi tanggungjawabku, aku dan istriku harus kerja fulltime. Aku gak yakin bisa menjalankan semua itu tanpa bantuan Tuhan. Selama proses itu aku merasakan sangat banyak sekali bantuan dan berkah yang aku terima. Semua jalan sepertinya dibuka oleh Tuhan,” jelas Iwan dengan wajah penuh syukur.

---000---


Pengalaman dan pelayanan se-abreg Iwan Soegiharto dalam kisahnya ini menunjukkan penyerahan diri yang utuh kepada kehendak Allah. Iwan menyerahkan hati sepenuhnya kepada Allah untuk dibentuk. Hati yang penuh belas kasih, seperti katanya; “Mampu menjadi kepanjangan tangan Tuhan.”

Bagi kita, Deacon Hok Chuan yang begitu menginspirasi dan Iwan Soegiharto yang tergerak hatinya untuk bersedia melanjutkan pelayanan sebagai deacon adalah dua orang sangat luar biasa dan baik hati. Semua perjalanan pelayanan mereka mengajarkan kita makna kesetiaan dan cinta yang tak kenal lelah melayani dalam keadaan dan suasana apapun. 

Deacon Oey Hok Chuan dan Deacon Iwan Soegiharto, secara nyata telah menjadi pengikat tali persahabatan dan tali semangat persaudaraan di dalam komunitas kita. WKICU sebagai gereja kecil tempat berkumpulnya umat menjadi lebih kuat, utuh dan bertumbuh dalam iman karena pernyataan yang di-materai-kan mereka ketika menjawab panggilan menjadi deacon. Allah sendiri yang telah memilih dan memberi pelindung serta pelayan bagi Warga Katolik Indonesia California Utara dari antara kita.



Iklan artikel:

______Tunggu artikel wawancara bagian ke II. Wawancara nanti akan penuh dengan hal dan seluk-beluk mengenai panggilan beliau menjadi deacon. Bagaimana sih menjadi deacon? Apa sih tugas deacon? Suka-dukanya apa sih? Ada gajinya gak? Dan masih banyak lagi informasi yang bisa kamu dapat ….. Kalau kalian penasaran, tunggu artikel wawancara bagian II kami dengan deacon Iwan Soegiharto. __________ 

Read More
Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin

"Terganggu"

Tanpa bola meriam, dunia akan kehilangan satu orang suci lagi untuk membimbing kita, kita juga tidak akan memiliki Gereja St Ignatius atau Jesuit. Bola meriam itu merupakan gangguan, dan bagaimana St. Ignatius menghadapinya mengubah hidupnya dan jutaan orang lainnya.

Tidak dapat disangkal bahwa kita hidup di dunia yang sibuk. Tuntutan hidup yang tiada henti – keluarga, pekerjaan, perawatan diri, dan banyak lagi – seolah berlomba untuk mendapatkan perhatian kita, sedemikian rupa sehingga kita selalu terburu-buru dan hampir tidak punya waktu untuk sekedar bernafas dan memperhatikan arah hidup kita. Waktu berlalu, kalender berlari menuju akhir tahun, dan kita kemudian bertanya-tanya ke mana perginya hari-hari itu. Kita – para Martha yang khawatir dan terganggu – disibukkan dengan obrolan, gangguan, dan kesenangan dunia, semua hal yang kita pikir kita tidak akan bisa hidup tanpanya.

Kemudian tragedi demi tragedi terjadi: meninggalnya orang yang dicintai, penyakit kritis, pemutusan hubungan kerja, atau perselisihan besar dengan pasangan atau teman - memaksa kita untuk melepaskan keasyikan dan komitmen penting kita. Tiba-tiba hidup kita berubah, dan kita dikejutkan dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan eksistensial, “Mengapa ini terjadi pada saya? Mengapa saya? Bagaimana sekarang? Apa arti dan tujuan hidup saya? Apakah ada kehidupan yang lebih dari semuanya ini?”

Ini adalah pertanyaan yang biasanya tidak kita tanyakan ketika semuanya berjalan dengan baik. Namun, masa-masa perjuangan dan keputusasaan sesungguhnya sering menandai awal dari babak baru dalam hidup kita. Ini adalah undangan untuk meninjau kembali hidup kita, ketika kita mulai mempertanyakan keberadaan kita dan mencari sesuatu yang berarti.


St. Ignatius dari Loyola adalah contoh klasik. Dalam peperangan, dia terkena bola meriam, melukai satu kaki dan mematahkan yang lain. Bola meriam itu sungguh telah mengganggu kehidupannya yang penuh warna di istana dengan permainan pedang dan para dayang istana. Dalam masa pemulihan, ia menghabiskan berbulan-bulan menganggur, sebagian besar dalam rasa sakit dan kebosanan, yang memberinya waktu yang signifikan dalam keheningan dan kesendirian untuk membaca dan merenungkan tentang hidupnya, kehidupan Kristus, dan orang-orang kudus. Dia mulai memperhatikan gerakan batinnya – sesuatu yang tidak akan bisa dia lakukan jika dia tetap sibuk dengan urusan duniawinya. Dia mulai menyaring bahwa pikiran dan keinginan ini membawa penghiburan atau kesedihan. Cederanya memungkinkan dia untuk melihat Tuhan bekerja dalam dirinya dan hidupnya. Akhirnya, dia memutuskan untuk memilih Kristus daripada kehidupan yang dia jalani sebelumnya.

Dalam masa pemulihan, ia menghabiskan berbulan-bulan menganggur, sebagian besar dalam rasa sakit dan kebosanan, yang memberinya waktu yang signifikan dalam keheningan dan kesendirian untuk membaca dan merenungkan tentang hidupnya, kehidupan Kristus, dan orang-orang kudus.


Kisah kita mungkin tidak sedramatis pertobatan St Ignatius, tetapi kita dapat yakin bahwa Tuhan selalu menjangkau kita setiap saat. Tuhan menyela hidup kita karena suatu alasan, dan kita perlu memperhatikannya. Interupsinya menunjukkan kepada kita apa yang membuat kita tertawan. Hanya kemanusiaan kitalah yang membuat kita lumpuh. Namun, kerentanan kita memungkinkan Dia untuk melakukan terobosan. Ini membuka kita pada kemungkinan yang belum pernah kita pertimbangkan sebelumnya dan potensi yang ditawarkan masa depan kita.

Ketika sebuah bola meriam mengenai St Ignatius, hal terakhir yang bisa dia bayangkan adalah jalan yang pada akhirnya akan menuntunnya untuk menulis Latihan Rohani Ignatius dan mendirikan Serikat Yesus. Tanpa bola meriam, dunia akan kehilangan satu orang suci lagi untuk membimbing kita, kita juga tidak akan memiliki Gereja St Ignatius atau Jesuit. Bola meriam itu merupakan gangguan, dan bagaimana St. Ignatius menghadapinya mengubah hidupnya dan jutaan orang lainnya.


Apa bola meriam kita? Dan bagaimana kita menanggapinya? Jika kita benar-benar percaya bahwa Tuhan akan menjaga kita, bukankah masuk akal jika kita akan melihat dan mengikuti bisikan Roh dengan setia, meskipun kita tidak tahu apa yang ada di depan? Mari kita berdoa kepada Tuhan agar Dia mengungkapkan kepada kita apa yang telah menawan kita begitu lama. Dan agar Dia memberi kita penglihatan untuk mengenali gangguan-Nya dan keberanian untuk keluar dari kurungan kita dan menuju kebebasan.
(RS)

— Peringatan Santo Ignatius jatuh pada tanggal 31 Juli —

Sumber: Terjemahan dari tulisan Rosina Simon berjudul “Interrupted”

Read More
Redaksi E-Bulletin Redaksi E-Bulletin

Romo Kodok melawan Romo Rajawali 

“ .. di mana posisi saya sebagai seorang Imam Katolik? “


Tanggal 8 Juni, 2022 adalah tiga tahun peringatan tahbisan Imamat saya. Tiga tahun adalah sebuah rentang waktu yang tidak terlalu lama tapi juga tidak terlalu singkat untuk merenungkan makna tahbisan Imamat di tengah dunia yang terus berubah. Belum lama berselang, seorang teman lama saya menulis essay di substack-nya bejudul “Romo Kodok.” Essay teman lama ini membuat saya merenung lebih panjang dan mendalam tentang makna tahbisan imamat saya, khususnya pada tahun ini. Pada intinya teman saya ini menulis bahwa saat ini Gereja Katolik hidup dalam gelombang revolusi sosial dan kultural yang luar biasa, dan Gereja seperti terjepit di tengah – tengah. Di sisi lain, Gereja Katolik juga mengalami kebangkrutan moral karena skandal pelecehan seksual. 


Kemunculan Romo Kodok 

Di tengah situasi yang tidak menentu ini, para Imam Gereja Katolik seperti kehilangan arah. Teman saya ini membagi para Imam dalam beberapa kategori. Kategori pertama adalah kelompok Imam Spiritualis - Motivator, dimana mana para Romo berlomba – lomba menjadi motivational speaker. Hasilnya adalah umat yang termotivasi mencari untung dan lupa Tuhan. Teologi mereka adalah teologi sukses -- kalau bisa, kaya raya di dunia dan kalau mati masuk surga juga. 

Kelompok kedua adalah para Imam spiritualis murni. Para Romo di kelompok ini fokus nya adalah berdoa, bermeditasi, dan mencari kedamaian dalam hening dan menutup diri dari dunia. Hasilnya adalah dunia tenang dan damai untuk diri sendiri dan sejumlah pengikut mereka. Akan tetapi mereka tidak peduli terhadap apa yang terjadi di dunia yang berantakan. 

Kelompok ketiga adalah para Imam pelawak, yang strategi utamanya adalah menyisipkan ajaran iman dengan gelak tawa ala Srimulat atau Ketoprak Humor. Yang penting adalah umat tertawa dan senang, dan tidak peduli apakah mereka punya hubungan dengan Tuhan atau sesamanya atau tidak. 

Kelompok keempat adalah para Imam ngepop, yang tampil nyentrik dengan ikat kepala dan kain, atau berusaha melakukan hal – hal yang masuk dalam budaya populer, mulai dari angkat besi, panjat tebing, nge-band, dan sebagainya.  Hasilnya susah membedakan antara seorang Imam dengan body builder, atau rockstar vocalist ataupun dukun. 

Kategori terakhir adalah tipe Imam Katolik yang khusus, yakni mereka yang menjadi politisi tanpa mengaku sebagai politisi. Mereka menjual kredensial imamatnya untuk memajukan kepentingannya sendiri. Dia menjadi sangat partisan – maju tak gentar membela yang bayar atau berjuang sampai titik darah penghabisan membela yang kaya dan berkuasa. Oleh teman saya, kelompok Imam Katolik ini dia sebut sebagai kelompok Romo Kodok, yaitu para Romo yang bernyanyi ketika hujan dan banjir, hanya untuk membuat junjungannya bersinar.

Dalam tahbisan Imamat saya yang ketiga, saya pun merenung – renung apakah saya masuk ke dalam satu kategori yang disebut oleh teman saya itu. Dengan segala kerendahan hati, saya pikir saya belum terjerumus dalam satu kategori mana pun. Saya akan terus berdoa dan memohon doa agar saya jangan terjebak ke dalam satu kelompok manapun. 

Pertanyaan yang lebih mendalam adalah kalau saya tidak masuk ke dalam kategori Imam yang disebut oleh teman saya tersebut, di mana posisi saya sebagai seorang Imam Katolik? 


Menjadi Romo Rajawali

Belum lama berselang, saya mengunjungi Basilica of St. Mark di kota Venezia. Tour guide yang membimbing kita menjelaskan banyak tentang sejarah Gereja. Satu hal yang menarik adalah dia menunjukkan lambang Rajawali atau Eagle yang terpampang di Basilica dan menjelaskan bahwa Rajawali itu ada lambang dari Yesus Kristus. Saya sendiri baru mendengar pertama kali bahwa Yesus di lambangkan sebagai Rajawali, karena sependek pengetahuan saya, Rajawali itu adalah lambang dari Santo Yohannes Penginjil. Sang tour guide ini menjelaskan bahwa Rajawali adalah lambang dari keselamatan dan kebangkitan Yesus Kristus. Rajawali yang terbang tinggi adalah perlambang bahwa Yesus dengan kebangkitannya ingin mendorong kita  umat Katolik untuk terbang tinggi dengan Iman kita, kalau kita membiarkan diri kita dibimbing oleh Roh Kudus. 

Salah satu konsep penting dalam Gereja Katolik adalah konsep In Persona Christi, yang bisa diterjemahkan sebagai “dalam diri manusia Kristus.” Konsep ini merujuk pada tseorang Imam yang bertindak dalam diri manusia Kristus. Atau dengan kata lain, seorang Imam seharusnya bertindak dalam kapasistasnya sebagai Manusia Kristus. Konsep ini sejatinya dipakai dalam konteks Sakramen, dimana Imam bertindak melalui penampilan gerak badan dan pengucapan kata – kata dalam upacara Sakramen sebagai Manusia Kristus. Akan tetapi saya pikir, konsep ini bisa dipakai secara umum, khususnya dalam tindakan Imam secara umum. 


Jikalau Kristus dilambangkan sebagai Rajawali, maka para Imam Katolik seharusnya juga bertindak ibarat Romo Rajawali yang bisa bertindak dengan grace and strength (rahmat dan kekuatan). Jadi daripada menjadi Romo Kodok, lebih baik para Imam Katolik berusaha menjadi Romo Rajawali. Bagaimana karakter Romo Rajawali ini? 

Pertama, Romo Rajawali adalah Imam Katolik yang tidak mencari kehormatan atau tempat yang tinggi, baik itu melalui kekuasaan ataupun kedekatan dengan orang kaya dan berkuasa. Di samping tidak mencari kehormatan, seorang Rajawali juga tidak terikat pada materi, sehingga tidak ada kebutuhan mencari setoran ataupun stipendium. Dalam konteks ini, Romo Rajawali juga harus siap menghadapi penghinaan, kecaman, kritikan ataupun penolakan, termasuk dari umat sendiri. Ketangguhan mental seperti ini diperlukan oleh para Imam Katolik dalam menghadapi kehidupan bergereja yang sudah terancuni oleh mentalitas konsumerisme ataupun orientasi pasar. 

Salah satu hal yang saya amati dalam tiga tahun terakhir adalah kecenderungan sejumlah umat untuk mencari kepuasan dalam  kehidupan bergereja. Sebagai contoh, Imam pelawak yang disebut oleh teman saya itu sebenarnya muncul karena permintaan pasar. Banyak para Imam yang berlomba – lomba untuk menjadi lucu – lucuan karena para umat juga berlomba – lomba mencari Imam yang hebat melucu atau melawak. Suatu ketika saya menawari untuk mendampingi kelompok Usia Lanjut yang kesepian karena tidak bisa beraktifitas normal di Gereja. Bukannya berterima kasih malah mereka menolak saya mentah – mentah dengan alasan bahwa “Romo Hendri itu orangnya tidak ramah.” Saya pun bertanya kenapa saya dibilang tidak ramah, apakah karena saya tidak menegur umat atau tidak ingat nama mereka. Jawabannya adalah “oh itu karena Romo Hendri selalu serius ketika berkhotbah.” Tentu saja saya hanya bisa miris mendengar kritikan seperti ini; pertama, kritik itu menggunakan logika yang patah karena serius dan tidak ramah adalah dua kata sifat yang berbeda dan bukan sinonim. Kedua, ketika berkotbah, tentu saja saya tidak akan melawak karena khotbah pada misa bukanlah tempatnya untuk melawak melainkan kesempatan untuk merenungkan Sabda Allah. 

Kembali ke mental konsumerisme. Sejumlah umat yang merasa ingin terpuaskan pun akan selalu gampang komplain terhadap Romo, mulai dari liturgi, musik, khotbah, atau pun hal lainnya. Ibaratnya konsumen yang tidak terpuaskan, para umat pun akan kabur atau hengkang ke gereja lain kalau permintaannya tidak terpenuhi atau terlayani. Sementara para Romo pun ketakutan kehilangan umatnya dan berusaha untuk sedapat mungkin memenuhi permintaan umatnya. Ketika saya masih bertugas sebagai diakon, sejumlah umat komplain karena ada seorang Romo Pembantu yang khotbahnya terlalu panjang. Sang Romo Paroki pun langsung menanggapi komplain itu dengan memasang jam di altar, supaya para Romo dan Diakon melihat waktu pas khotbah. Romo Paroki pun segera berbicara kepada umat dan memastikan bahwa komplain mereka telah didengar. Di tengah situasi ber-gereja seperti ini, tentu akan sulit bagi para Romo untuk berkarya karena selalu ada desakan untuk memperhatikan kepuasan umat, entah itu hanya kepuasan sesaat atau pun individualistik. Meski demikian seorang Rajawali harus terus maju tak gentar membela yang benar, dan bukan membela yang bayar. 

Kedua, Romo Rajawali juga harus terus belajar dan menambah ilmu sehingga bisa terus “terbang tinggi” ibarat seekor Rajawali. Para Romo harus terus belajar dan menambah ilmu karena situasi kehidupan ber-gereja saat ini diperumit dengan banjirnya arusnya informasi melalui internet dan media sosial, dimana banyak umat yang merasa sudah menguasai punya pengetahuan mumpuni hanya dengan mendengarkan video youtube atau google. Sebagai generasi X, saya dididik untuk belajar dari buku ataupun printed materials. Jadi saya harus ke perpustakaan untuk mencari edisi Latin, Civita Dei, Santo Agustinus. Atau saya harus menabung dulu untuk membeli buku satu set lengkap Summa Theologiae Santo Thomas Aquinas. Untuk mendalami makna Kitab Suci, saya harus membuka Bible commentary dan meneliti maksud pengarang terhadap ayat – ayat tersebut. Sekarang umat Katolik tidak perlu menunggu buku dari Roma atau pun ke perpustakaan di University of Notre Dame. Dengan kemudahan akses informasi dan kecepatan dunia digital, umat Katolik bisa berpikir seperti Santo Thomas Aquinas dari Senin sampai Kamis, kemudian Jumat- Sabtu menjadi Santo Agustinus dan pada hari Minggu menjadi ahli kitab suci. Saat ini umat Katolik bisa menjadi ahli teologi dalam berbagai macam gaya, dalam sembarang aliran dan dengan pendekatan apapun hanya bermodalkan smart phone. 

Dalam situasi ini para Romo harus bersaing dengan umat yang merasa pintar. Suatu ketika dalam sebuah misa, saya berkhotbah tentang Kitab Kedua Raja Raja, cerita tentang Naaman yang terkena kusta dan disuruh oleh Nabi Elisah untuk berendam di sungai Jordan. Saya mencoba menjelaskan bahwa setelah dia sembuh, Naaman sang Jenderal dari Kerajaan Aram itu memberikan pernyataan iman tentang keunggulan Tuhan bangsa Israel yang monotheis melawan Polyteisme dari musuh – musuh Israel. Setelah misa, seorang umat menghampiri saya dan langsung mengkritik bahwa Naaman itu dari Syria dan bukan Aram. Kalau saja umat satu ini benar – benar mendalami sejarah kitab suci, dan bukan hanya belajar dari youtube, dia tentu tahu bahwa Aram dan kerajaan Syria itu adalah sama. Saya mencoba menjelaskan dengan sabar, tapi orang ini tidak berhenti dan terus melancarkan kritik baru bahwa khotbah saya tentang monotheisme Israel itu juga salah, karena mereka sebenarnya Israel itu adalah henotheisme. Dengan sabar saya pun menjelaskan bahwa betul ada teori bahwa bangsa Israel pada jaman Musa itu memeluk henoteisme, tapi para ahli kitab suci sendiri masih berdebat tentang kebenaran teori itu. Kisah Nabi Musa itu sekitar abad 13-14 Sebelum Masehi, sementara saya berkhotbah tentang Nabi Elisha yang waktunya adalah sekitar abad ke 8-9 Sebelum Masehi. Ya begitulah realitas hari ini, kita para Romo harus bersaing ilmu dengan umat Katolik 4.0 yang belajar dari google dan youtube. 

Menjadi Romo Rajawali adalah sebuah aspirasi; saya sendiri belum berani mengatakan saya sudah menjadi seorang Romo Rajawali. Dalam kurun tiga waktu terakhir, saya masih banyak belajar, dan dalam menulis renungan ini, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya lebih baik dari Romo – Romo lain. Saya hanya bisa berdoa dan memohon doa dari banyak pihak agar saya tidak menjadi Romo Kodok dan bisa terbang tinggi menjadi Romo Rajawali. 



S. Hendrianto, SJ

Read More
Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin

Immersed in Prayer

Mathematically speaking, the only logical answer would be when her will is equal to His will, which would only be possible if she completely surrendered her will and submitted to Him.

Immersed in Prayer

She was immersing herself in the hot water in a quiet morning when three generations of females entered the onsen. Even though she tried to keep to herself, she couldn’t help but notice the young girl, her mother, and her grandmother. Two things caught her attention. The young girl’s smooth porcelain skin, the mother’s well-maintained appearance and yet the onset of aging was apparent, and the grandmother’s deep lines and wrinkles. And their dispositions were noticeably different. The young girl was lively and chatty, the mother refined and eloquent, and the grandmother serenely paying attention and occasionally chimed in the conversation. 

The three generations made interesting contrasts - the evolving physical, mental, and perhaps intellectual progress was clear to see. No one could stop the deterioration of the physique over time, regardless of what one does. Most would develop mentally and intellectually, as one learns from and goes through education and life experiences. The girl has noticed the evolution in herself. Those were exterior, visible, and observable. Then a thought crossed her mind. How about the invisible, the deeper self? Would there be growth in the interiority as well? 

Somehow, she could not put down the thought and started pondering about her faith and prayer. Especially her struggle in understanding free will and God’s will. She was taught that man has free will; and yet “Thy will be done” was also imparted and repeated often in prayers. The peculiar dichotomy. 

She remembered praying as a child and adolescent, petitioning for certain favors, such as getting good grades for her exams, requesting presents for her birthdays, wishing for a certain boy to notice her, et cetera. She was praying and expecting that her prayers would be granted. And to increase the odds, she would promise to be good and try to be super nice and helpful to her family and friends. It was always about her will, and she was bargaining and buying grace. It did not occur to her that God has will. The conversation was a one-way street. Her speaking, Him listening.

Slowly she learned that she did not always get what she asked for. And occasionally, she learned to accept when people reminded her that maybe a certain outcome was not God’s will. Such as when her childhood best friend was diagnosed with leukemia. As a mature adult, she prayed hard and prayed for intercessions, and her friend’s leukemia was cured. She was elated. God was good, and He answered her prayer. When cancer recurred six years later, she prayed harder and added Novenas and weekly fasting while reciting “Thy will be done.” Perhaps it was more in the lips than in the heart, for she was devastated when her friend passed on. Even though she could accept that it was God’s will, and it was best for her friend, she could not help but question the contradiction of her will versus His will.

How could this paradox ever be resolved? Mathematically speaking, the only logical answer would be when her will is equal to His will, which would only be possible if she completely surrendered her will and submitted to Him. If she totally believed that He knows her better than she knows herself, that He loves her more than she loves herself, that His ways are higher than hers. Ceding control. Willingness to enter the unknown. Complete trust. Complete faith. Like Jesus on the Cross. Was that even possible? 

Her thoughts were interrupted by their laughter. The young girl’s gullible chuckle and the grandmother’s gentle laugh. Her eyes were drawn to the grandmother’s wrinkled face. A face that has seen and lived through a bountiful of joys and sorrows. A wise, peaceful soul. Perhaps it is possible. (RS).    

*onsen = Japanese hot spring    

(Translation in Bahasa Indonesia)

Tenggelam dalam Doa

Seorang wanita membenamkan dirinya di air panas di pagi yang tenang ketika tiga wanita dari tiga generasi berbeda memasuki onsen. Meskipun dia mencoba untuk tidak memperhatikan, dia tidak bisa tidak memperhatikan gadis muda itu, ibunya, dan neneknya. Ada dua hal yang menarik perhatiannya. Kulit porselen halus gadis muda itu, penampilan sang ibu yang terpelihara dengan baik namun permulaan penuaan tampak jelas, dan garis-garis dalam dan kerutan sang nenek. Dan disposisi mereka sangat berbeda. Gadis muda itu lincah dan cerewet, ibunya halus dan fasih berbicara, dan neneknya dengan tenang memperhatikan dan kadang-kadang menimpali dalam percakapan.

Tiga generasi membuat kontras yang menarik - kemajuan fisik, mental, dan mungkin intelektual yang berkembang jelas terlihat. Tidak ada yang bisa menghentikan kerusakan fisik dari waktu ke waktu, terlepas dari apa yang dilakukan. Sebagian besar akan berkembang secara mental dan intelektual, ketika seseorang belajar dari dan melalui pendidikan dan pengalaman hidup. Gadis itu telah memperhatikan evolusi dalam dirinya. Itu adalah eksterior, terlihat, dan dapat diamati. Kemudian sebuah pikiran terlintas di benaknya. Bagaimana dengan yang tak terlihat, diri yang lebih dalam? Akankah ada pertumbuhan dalam interioritas juga?

Entah bagaimana, dia tidak bisa mengesampingkan pikiran itu dan mulai merenungkan tentang iman dan doanya. Terutama perjuangannya dalam memahami kehendak bebas dan kehendak Tuhan. Dia diajari bahwa manusia memiliki kehendak bebas; namun "Jadilah kehendak-Mu" juga disampaikan dan sering diulang dalam doa. Dikotomi yang khas.

Dia ingat berdoa sebagai seorang anak dan remaja, memohon bantuan tertentu, seperti mendapatkan nilai bagus untuk ujiannya, meminta hadiah untuk ulang tahunnya, berharap seorang anak laki-laki memperhatikannya, dan lain-lain. Dia berdoa dan berharap doanya akan dikabulkan. Dan untuk meningkatkan peluang, dia akan berjanji untuk menjadi baik dan berusaha menjadi sangat baik dan membantu keluarga dan teman-temannya. Itu selalu tentang keinginannya, dan dia menawar dan membeli anugerah. Tidak terpikir olehnya bahwa Tuhan memiliki kehendak. Percakapan adalah jalan satu arah. Dia berbicara, Dia mendengarkan.

Perlahan dia belajar bahwa dia tidak selalu mendapatkan apa yang dia minta. Dan terkadang, dia belajar menerima ketika orang mengingatkannya bahwa mungkin hasil tertentu bukanlah kehendak Tuhan. Seperti ketika sahabat masa kecilnya didiagnosis menderita leukemia. Sebagai orang dewasa yang matang, dia berdoa dengan sungguh-sungguh dan berdoa untuk syafaat, dan leukemia temannya disembuhkan. Dia sangat gembira. Tuhan itu baik, dan Dia menjawab doanya. Ketika kanker kambuh enam tahun kemudian, dia berdoa lebih keras dan menambahkan Novenas dan puasa mingguan sambil membaca "Jadilah kehendak-Mu." Mungkin itu lebih di bibir daripada di hati, karena dia hancur ketika temannya meninggal. Meskipun dia bisa menerima bahwa itu adalah kehendak Tuhan, dan itu yang terbaik untuk temannya, dia tidak bisa tidak mempertanyakan kontradiksi antara kehendaknya dengan kehendak-Nya.

Bagaimana paradoks ini bisa diselesaikan? Secara matematis, satu-satunya jawaban logis adalah ketika kehendaknya sama dengan kehendak-Nya, yang hanya mungkin jika dia sepenuhnya menyerahkan kehendaknya dan tunduk kepada-Nya. Jika dia benar-benar percaya bahwa Dia mengenalnya lebih baik daripada dia mengenal dirinya sendiri, bahwa Dia mencintainya lebih dari dia mencintai dirinya sendiri, bahwa jalan-Nya lebih tinggi daripada miliknya. Kontrol penyerahan. Kesediaan untuk memasuki yang tidak diketahui. Kepercayaan penuh. Iman yang lengkap. Seperti Yesus di Kayu Salib. Apakah itu mungkin?

Pikirannya terganggu oleh tawa mereka. Tawa gadis muda yang mudah tertipu dan tawa lembut sang nenek. Matanya tertuju pada wajah nenek yang keriput. Wajah yang telah melihat dan menjalani banyak suka dan duka. Jiwa yang bijaksana dan damai. Mungkin itu mungkin. (RS).

*onsen = pemandian air panas Jepang

Read More
Apa dan Siapa Redaksi E-Bulletin Apa dan Siapa Redaksi E-Bulletin

Santa Rita dari Cascia

Santa Pelindung akan kasus-kasus yang mustahil, serta pernikahan yang sulit.

St. Rita of Cascia


Patron Saint of Lost and Impossible Causes and Difficult Marriages

Hari Raya: 22 Mei

Pelindung: kasus-kasus yang mustahil, pernikahan yang sulit.

Kelahiran: 1381, Kematian: 1472

Beatifikasi: oleh Paus Urbanus VII pada tahun 1627

Dikanonisasi: oleh Paus Leo XIII pada 24 Mei 1900

Gambar St. Rita

Santa Rita lahir sebagai Margherita Lotti di Roccaporena, Italia pada tahun 1381. Sehari setelah pembaptisannya, Rita dikelilingi oleh segerombolan lebah putih, yang masuk dan keluar dari mulut bayinya tanpa menyakitinya. Alih-alih khawatir, keluarganya percaya bahwa dia ditandai sebagai orang yang berbudi luhur dan berbakti kepada Tuhan.

Pada usia dini, dia memohon kepada orang tuanya untuk mengizinkannya masuk biara tetapi malah diatur untuk menikah dengan pria kejam bernama Paolo Mancini. Rita muda menjadi seorang istri dan ibu pada usia dua belas tahun dan suaminya adalah pria yang pemarah. Dalam kemarahan, ia sering menganiaya Rita secara verbal dan fisik. Dia juga dikenal mengejar wanita lain dan dia memiliki banyak musuh.

Paolo memiliki banyak musuh di Cascia, tetapi pengaruh Rita terhadapnya akhirnya membawanya menjadi pria yang lebih baik. Dia bahkan meninggalkan perseteruan keluarga antara Mancini dan Chiquis. Sayangnya, perseteruan antara keluarga Mancini dan Cascia semakin bergejolak sehingga Paolo dikhianati terbunuh oleh salah seorang sekutunya sendiri.

Setelah kematian suaminya, Rita memberikan pengampunan publik kepada pembunuhnya, tetapi saudara laki-laki Paolo, Bernardo, masih marah dan mendorong kedua putra Rita, Giovanni Antonio dan Paulo Maria, untuk bergabung dalam permusuhan. Di bawah kepemimpinan paman mereka, kedua anak laki-laki Rita menjadi lebih seperti ayah mereka sebelum Rita menikah dengannya, dan mereka ingin membalas pembunuhan ayah mereka.

Rita berusaha menghentikan mereka, tetapi kedua putranya bertekad untuk membalas dendam kematian ayah mereka. Rita berdoa kepada Tuhan, meminta Tuhan untuk mengambil anak-anaknya sebelum mereka kehilangan jiwa mereka oleh karena dosa besar pembunuhan. Satu tahun kemudian, doanya terkabul ketika kedua putranya terkena disentri dan meninggal.

Setelah kematian putra-putranya, Rita berusaha memasuki biara Santa Maria Magdalena di Cascia, tetapi dia tidak diizinkan untuk bergabung. Meskipun karakter dan kesalehan Rita diakui, hubungan suaminya dengan perseteruan keluarga sangat ditakuti.

Ketika Rita bersikeras, biara memberitahunya bahwa dia bisa bergabung jika dia bisa menemukan cara untuk memperbaiki luka antara Chiquis dan Mancini. Setelah meminta Yohanes Pembaptis, Agustinus dari Hippo, dan Nicholas dari Tolentino untuk membantunya dalam tugasnya, dia berusaha untuk mengakhiri perseteruan. Wabah pes telah menyebar ke seluruh Italia pada waktu itu, dan ketika Bernardo Mancini terinfeksi, dia akhirnya menghapus perseteruan dengan keluarga Chiqui.

Setelah konflik diselesaikan, Rita diizinkan masuk biara pada usia tiga puluh enam tahun. Dikatakan bahwa dia diangkut ke biara Santo Magdalena melalui pengangkatan pada malam hari oleh tiga santo pelindung yang dia undang.
Selama di biara, Rita menjalankan tugasnya dengan setia dan sering menerima sakramen. Rita memiliki pengabdian yang besar pada Sengsara Kristus, dan suatu hari, ketika dia berusia enam puluh tahun, dia bertanya, "Tolong biarkan aku menderita sepertimu, Juru Selamat Ilahi."

Setelah permintaannya, luka muncul di dahinya, seolah-olah duri dari mahkota Kristus telah menusuknya. Itu meninggalkan luka yang dalam, yang tidak sembuh-sembuh, dan itu menyebabkan dia menderita sampai hari dia meninggal.

Dikatakan bahwa saat dia mendekati akhir hidupnya, Rita terbaring di tempat tidur karena TBC. Saat itulah dia meminta seorang sepupu yang datang berkunjung untuk mengambil mawar dari taman di rumah lamanya. Karena saat itu bulan Januari, sepupunya tidak berharap akan menemukan bunga mawar, tetapi ternyata memang ada satu bunga mawar yang sedang mekar, yang kemudian dibawa kembali ke Rita di biara.

Dia meninggal empat bulan kemudian, pada 22 Mei 1457.

Setelah kematiannya, dia dimakamkan di basilika Cascia, dan kemudian ditemukan tidak rusak. Tubuhnya dapat ditemukan hari ini di kuil Saint Rita di Cascia.

Rita dibeatifikasi oleh Paus Urbanus VIII pada 1627 dan dikanonisasi oleh Paus Leo XII pada 24 Mei 1900.

Saint Rita sering digambarkan dalam kebiasaan hitam, yang secara historis tidak akurat karena seragam biarawati di Biara Saint Magdalena adalah warna krem ​​atau cokelat. Dia juga sering ditampilkan memegang duri, Salib besar, atau daun palem dengan tiga duri untuk mewakili suami dan dua putranya. Dalam beberapa gambar, Saint Rita terlihat memiliki luka di dahinya, memegang bunga mawar, atau dikelilingi lebah.



Doa untuk Santa kasus-kasus Mustahil

O St. Rita yang luar biasa, pembuat mukjizat, dari tempat kudus-Mu di Cascia, di mana dalam segala keindahanmu engkau tidur dalam damai, di mana relikmu menghembuskan nafas surga, arahkan mata belas kasihmu kepadaku yang menderita dan menangis!

Engkau melihat hatiku yang malang yang berdarah dikelilingi oleh duri-duri. Engkau melihat, O Orang Suci yang terkasih, bahwa mataku tidak memiliki air mata lagi untuk ditumpahkan, begitu banyak aku menangis! Lelah dan putus asa seperti saya, saya merasakan doa yang sangat sekarat di bibir saya.

Haruskah saya putus asa dalam krisis hidup saya ini? O datang, St. Rita, datanglah untuk membantu saya dan membantu saya. Bukankah engkau disebut Orang Suci dari Kemustahilan, Pembela mereka yang putus asa? Maka hormatilah nama-Mu, berikan untukku dari Allah perkenanan yang aku minta.

[Di sini minta bantuan yang ingin Anda dapatkan.]

Semua orang memuji keagungan-Mu, semua orang menceritakan mujizat paling menakjubkan yang dilakukan melalui-Mu, haruskah aku sendiri kecewa karena Engkau tidak mendengarku? Ah tidak! Berdoalah kemudian doakan aku kepada Tuhanmu Yesus yang manis agar Dia tergerak untuk kasihan dengan masalahku dan agar, melaluimu, O St. Rita yang baik, aku dapat memperoleh apa yang sangat diinginkan hatiku.



Diterjemahkan dari https://www.catholic.org/saints/saint.php?saint_id=205

Read More
Puisi dan Karya WKICU Admin Puisi dan Karya WKICU Admin

On Mother's Day....

Happy Mother’s Day to all mothers in the World.
God bless you and always be with you..

Dear Mother Mary,

Thank you for always be present in my life and be a faithful mediator between your humble/sinful daughter and your almighty son, our savior and Lord, Jesus Christ.

To my mother,

Thank you for your unconditional love regardless of all of my shortcomings. As I grow older, I feel closer to you as we have become more like friends who often exchange ideas, vent out our frustrations, etc. which I appreciate and treasure! I love you always!

Your daughter!

Read More
Redaksi E-Bulletin Redaksi E-Bulletin

Notes on Mother’s Day

Words can’t express enough our gratitude for our mothers.
Yet we still try, here are some…

Mother Mary,

Thank you for showing me how to have a heart full of love and humility. Please pray for us, especially all the mothers.

•••••••


Bunda Maria, Engkaulah Bunda spiritual kami.
Doakanlah, dan dengarkanlah doa semua mothers di dunia, terutama mereka yang sedang mengandung, agar tetap menjaga anak dalam kandungan mereka sampai lahir dengan sempurna. Seperti engkau sendiri telah memberikan teladan yang terbaik.
Terima kasih dan syukur atas segala kasih dan penyertaanMu dalam hidup kami dan hidup semua orang yang terdekat dengan kami.
Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah Buah TubuhMu Yesus. Amin.

•••••••

Kepada ibuku,

Ibu, maafkan aku, anakmu yang tidak bisa mencintaimu sedalam kamu mencintai aku.

 

Kepada bunda Maria,

Bunda Suci, ijinkan aku meminjam hati sucimu, agar aku memiliki kerendahan hati, kesabaran, kelembutan dan ketabahanmu, dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Allah Bapa di Surga.




Read More
WKICU Admin WKICU Admin

Cinta Yesus Kepada Kita Semua

Memasuki masa Paskah di tahun 2022 ini, marilah kita bersama-sama merenungkan apakah makna cinta Yesus kepada kita semua dengan menyimak rekaman Latihan Rohani/ Ignatian Spiritual Exercise sesi ke-7 (terakhir) yang di bimbing oleh Romo Mutiara Andalas, SJ berikut ini.

Read More
Eliza Kertayasa Eliza Kertayasa

Happy Easter 2022

He is Risen..!

We were buried therefore with him by baptism into death, so that as Christ was raised from the dead by the glory of the Father, we too might walk in newness of life

Read More
Kesaksian WKICU Admin Kesaksian WKICU Admin

Cobaan selama Prapaskah 2022

Janganlah pernah meragukan rencana-Nya! Selalu percaya lah kepada-Nya karena Dia selalu menyediakan segalanya dan tidak pernah membiarkan siapa pun melewati cobaan sendirian karena Dia selalu bersama kita semua! Amen !

Dalam masa masa Pra-Paskah tahun ini, tepatnya pada tanggal 17 Maret 2022 yang baru lalu, saya menerima sebuah tuntutan pengadilan atas sebuah insiden yang terjadi di bulan Oktober 2018. Dalam tuntutan itu, yang dituduhkan kepada saya adalah melakukan perampokan, membobol masuk, dan melanggar kontrak leasing. Tetapi saya berkeyakinan bahwa dari semua tuduhan itu, satu-satunya kesalahan yang telah saya lakukan adalah pelanggaran kontrak. Itupun dikarenakan sang pemilik rumah telah melanggar perjanjian sewa terlebih dahulu dengan membatasi akses saya ke tempat itu dengan tidak memberikan semua kunci kepada saya. Hal itu menyebabkan saya tidak dapat mengakses barang-barang pribadi dan area umum saya. Itu terjadi tiga kali dalam dua bulan saya tinggal di kediaman itu. Selain itu, saya berulang kali dituduh mencuri dan dimarahi oleh pemiliknya. Semua itu membuat saya mengalami kekhawatiran dan stress yang terus-menerus, sehingga saya akhirnya mencari seorang penasihat hukum. Atas nasihat pengacara hukum, saya memutuskan untuk pindah dari kediaman itu demi kesejahteraan dan kesehatan mental saya. Sejak itu saya tidak pernah kembali ke kediaman sejak itu.

Setelah menerima gugatan itu, saya terus berdoa meminta bimbingan Tuhan serta lewat sang pengacara. Pengacara saya meyakinkan saya bahwa tuduhan perampokan dan melanggar dan memasukkan klaim telah melewati masa pembatasan tiga tahun. Satu-satunya klaim yang layak adalah pelanggaran kontrak; namun karena karena faktor perilaku mengerikan sang pemilik property, ada argumen yang harus dibuat.

Saya akan diadili di tengah Pekan Suci pada 12 April, yakni 2 hari sebelum Kamis Agung. Saya menganggapnya sebagai tanda berkat karena hampir sejajar dengan awal penderitaan Tuhan Yesus; saya merasa seperti memikul salib bersama-Nya. Sebelum hari pengadilan, saya diberi doa pembebasan oleh salah satu tante saya yang menyatakan, "Darah Yesus Kristus yang Mahakudus, selamatkan saya (kita) dan seluruh dunia." Saya disarankan oleh tante saya untuk membaca ini terus menerus serta berdoa Salam Maria. Saya mengikuti nasihatnya dalam hati dan berdoa Rosario selain melakukan doa hening 20 menit setiap hari. Saya juga berdoa doa perlindungan Malaikat Agung St. Michael, berdoa doa tindakan pentahbisan kepada roh kudus, berdoa Novena penyerahan diri pada kehendak Tuhan oleh Pastor Don Dolindo Ruotolo, dan berdoa doa untuk tujuh karunia roh kudus. Saya juga berdoa kepada malaikat penjaga saya, kepada keluarga suci, dan kepada santa-santa baptis/konfirmasi saya, St. Stephanie dan St. Agnes.

Pada hari pengadilan, saya terus membaca Salam Maria dan doa pembebasan dalam perjalanan ke gedung pengadilan dan di dalam gedung pengadilan. Sungguh, saya dapat mengatakan bahwa saya benar-benar merasakan kehadiran Tuhan Yesus, Bunda Maria, dan semua Malaikat Agung di ruang sidang karena saya sangat tenang dan damai. Saya dimampukan menjawab semua pertanyaan hakim dengan tenang dan hormat. Sementara, orang yang menggugat saya tampak marah, tidak teratur, dan sangat emosional. Selain itu, dia tidak dapat memberikan bukti kuat kepada hakim ketika ditanya.

Hakim menyatakan bahwa kasus tersebut sedang diajukan; penghakiman dan semua bukti akan dikirimkan melalui surat dalam satu atau dua minggu. Meskipun penghakiman belum disampaikan, saya merasa damai dan berserah penuh kepada Tuhan karena Dia adalah hakim tertinggi, satu-satunya yang mengetahui kebenaran. Saya percaya ini dengan sepenuh hati! Amen Amen Amen!!!

Sebagai penutup, saya menyadari betapa diberkatinya saya memiliki keluarga, teman, dan teman-teman kerja yang terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu yang mendukung saya selama masa sulit ini. Tuhan benar-benar telah memberkati saya dengan menempatkan mereka semua dalam hidup saya. Janganlah pernah meragukan rencana-Nya! Selalu percaya lah kepada-Nya karena Dia selalu menyediakan segalanya dan tidak pernah membiarkan siapa pun melewati cobaan sendirian karena Dia selalu bersama kita semua! Amen!

Read More
Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin

Who is Your King ?

Siapakah rajamu, yang kepadaNya engkau rela menyerahkan nyawamu ?

If I was never born,.. what difference(s) it would be to the World ?.

Ketika kita bertanya kepada diri sendiri: Apa tujuan hidupku terlahir di dunia ini?
Kemungkinan besar kita akan sulit menjawabnya.


Namun ketika pertanyaannya dibalik menjadi: “Kalau saya tidak pernah terlahir di duni ini, apa ada bedanya bagi dunia ?.” Otomatis kita berpikir lebih keras lagi untuk mencari jawaban-jawabannya. Karena kegagalan untuk menjawabnya berarti adalah kegagalan untuk memberikan justifikasi atas keberadaan kita. Dan tidak seorangpun ingin bila kebearadannya di dunia tidak berarti apa-2.


Saat menuliskan ini, invasi Rusia ke Ukraina telah memasuki hari ke sepuluh, dan ratusan korban jiwa telah berjatuhan dari kedua belah pihak. Sebagian besar korban dari pihak Rusia adalah para tentara, karena memang pihak tentara Rusia diperintahkan pemimpin negaranya untuk memasuki wilayah negara Ukraina. Jatuhnya korban para tentara ini (meskipun dalam sebuah perang itu adalah sebuah keniscayaan dan sebuah konsekuensi wajar), tetap saja membuat saya berpikir: 'Ah, sungguh kasihan, sungguh sangat disayangkan, nyawa hilang dalam perang melawan sesama manusia'.


Mengapa disayangkan? Bukankah mereka adalah tentara? Bukankah memang tugas tentara adalah tunduk kepada perintah pemimpin negara, berperang membela dan mempertahankan negara ?.

Iya betul, memang para tentara harus taat kepada pemimpinnya (raja, presiden, panglima tentara) dan tidak boleh menolak perintah, disuruh apapun harus turut perintah, disuruh perang ya perang, disuruh latihan ya latihan. Tetapi bagaimana dengan nyawa-nyawa mereka itu, Apakah kerelaan MEREKA menyerahkan nyawanya untuk berperang, sungguh-sungguh adalah tujuan yang paling penting, mengalahkan pentingnya semua tujuan hidup lain di dunia ini?.

Saya tidak bisa menerka jawabannya. Saya terdiam, lama.

Apakah kalau mati dalam perang akan masuk Sorga ?.
Kalau tidak masuk Sorga, lantas mengapa bersedia menjadi tentara dan membunuh sesama ?.

Pertanyaan-pertanyaan ini terasa begitu mendasar dan penting untuk dijawab. Sebab jika semua tentara telah menyerahkan nyawanya atas nama ketaatan kepada pemimpin (dunia), yang tidak menjamin keselamatan kekal, bagaimana mereka menempatkan ketaatan mereka kepada Tuhan, yang sungguh menjanjikan keselamatan kekal ?.
Ataukah semua tentara tidak percaya akan adanya keselamatan kekal ?. Ataukah sebaliknya mereka percaya bahwa berperang (dan membunuh pihak musuh) akan menghantarkan jiwa mereka kepada keselamatan kekal?.


Jika sungguh sebuah ketaatan adalah kunci mencapai keselamatan kekal, bagaimana kalau Tuhan, sebagai raja kita, memerintahkan kita untuk berperang melawan dosa?. Tidakkah perintah itu adalah jauh lebih penting daripada semua peperangan fisik di dunia?.

Jika ya, akahkah kita rela menyerahkan nyawa demi perintah Tuhan itu? Apakah kita rela mati seperti para tentara yang rela mati mematuhi perintah pemimpin negaranya ?.


Masa Prapaskah adalah masa yang baik untuk memperbaiki diri dan berperang melawan dosa. Dan semoga kita mau melihat kembali apa arti dan tujuan keberadaan kita di dunia ini. Siapakah raja sejati bagi kita, dan apakah kita sudah taat dan rela mati untuk Sang Raja, seperti ketaatan para tentara yang telah rela mati di medan perang.
Sebab Yesus telah menunjukkan kerelaanNya sampai mati di kayu salib, demi ketaatanNya kepada perintah Bapa. Dan dengan menyerahkan nyawaNya, sungguh Dia telah memperoleh kembali hidupNya.


Newark, CA March 5, 2022



Read More
Redaksi E-Bulletin Redaksi E-Bulletin

Mempuasakan Dan Memberi Makan

"Serigala mana yang akan menang?" Cherokee tua itu menjawab, "Yang kamu beri makan."

Prapaskah ada pada kita. Sebagian dari kita mungkin sudah merenungkan amalan puasa, doa, dan sedekah mana yang ingin kita jalankan tahun ini. Banyak yang akan mengulangi pantangan yang sudah dikenal. Yang lain ingin menjelajah ke sesuatu yang baru, dan yang beberapa lagi tidak yakin harus mulai dari mana. Cerita rakyat asli Amerika ini mungkin menawarkan kita beberapa ide untuk direnungkan:

Cherokee tua sedang mengajar cucunya tentang kehidupan. "Perkelahian sedang terjadi di dalam diriku," katanya kepada anak laki-laki itu. “Ini adalah pertarungan yang mengerikan, dan itu adalah antara dua serigala. Yang satu jahat – dia adalah kemarahan, iri hati, kesedihan, penyesalan, keserakahan, kesombongan, mengasihani diri sendiri, rasa bersalah, dendam, rendah diri, kebohongan, kebanggaan palsu, superioritas, dan ego.” Dia melanjutkan, “Yang lain baik – dia adalah sukacita, kedamaian, cinta, harapan, ketenangan, kerendahan hati, kebaikan, kebajikan, empati, kemurahan hati, kebenaran, kasih sayang, dan iman. Pertarungan yang sama terjadi di dalam diri Anda – dan di dalam diri setiap orang juga.” Sang cucu memikirkannya sebentar dan kemudian bertanya kepada kakeknya, "Serigala mana yang akan menang?" Cherokee tua itu menjawab, "Yang kamu beri makan."

Ada kekayaan dan kebijaksanaan yang mendalam dalam cerita ini. Kita mengenali diri kita sebagai kakek dan cucu: kisah dua serigala adalah kisah kita, terlepas dari siapa kita, di mana kita tinggal, dan berapa usia kita. Terlahir sebagai anak Tuhan yang diberkati, kita masing-masing secara bertahap kehilangan kepolosan kita ke dunia, yang memikat dan meninabobokan kita dengan pesona, godaan, dan gangguannya, serta melalui ketidaktahuan, ketidaktaatan, dan luka yang ditimbulkan oleh diri kita sendiri dan orang lain.

Memang, pertarungan antara orang suci dan orang berdosa di dalam adalah pergumulan tanpa akhir; itu adalah interaksi “Jekyll dan Hyde” dalam diri kita. Tidak ada orang yang benar-benar suci atau benar-benar orang berdosa, dan tidak ada yang luput dari perjuangan ini. Semua orang kudus bergumul dengan kelemahan mereka masing-masing – duri dalam daging yang dimaksud oleh St. Paulus – yang membuat mereka tetap rendah hati. Demikian pula, seorang pembunuh yang mengerikan mungkin memiliki kelemahan, betapapun remehnya itu.

Kita cantik dan hancur, diberkati dan terluka, satu dengan banyak kebajikan dan banyak keburukan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa bagian yang kita makan – baik atau jahat – menentukan siapa diri kita dan akan menjadi apa kita nantinya. Itu logis, sesuatu yang secara intuitif kita ketahui tetapi sering kita lupakan. Banyak dari kita yang sadar akan makanan yang kita pilih. Kita berolahraga secara teratur untuk menjaga tubuh kita tetap bugar dan untuk memastikan bahwa arteri dan vena jantung fisik kita tetap sehat dan tidak tersumbat. Namun kita sering mengabaikan perhatian yang sama untuk merawat hati rohani kita.

St. Paulus telah memberi kita ide-ide berharga untuk puasa dan makanan rohani kita: “Tetapi sekarang kamu harus menyingkirkan semua hal seperti itu – kemarahan, murka, kedengkian, fitnah, dan kata-kata kasar dari mulutmu. Jangan membohongi satu sama lain… kenakan kasih sayang, kebaikan, kerendahan hati, kelembutan, dan kesabaran. Bersabarlah satu sama lain, saling memaafkan… Di atas segalanya, kenakan dirimu dengan cinta. Biarlah damai sejahtera Kristus memerintah di dalam hatimu. Dan bersyukurlah… Dan apapun yang kamu lakukan, dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur kepada Allah Bapa melalui Dia” (lih. Kol 3:8-17). Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat latihan spiritual yang kita dipanggil untuk lakukan.

Kebajikan tidak pernah diperoleh dalam semalam, dan kejahatan tidak pernah hilang untuk selamanya. Tukang kebun yang berpengalaman mengatakan bahwa dibutuhkan banyak musim untuk benih tumbuh dan menghasilkan buah. Benih membutuhkan tanah yang baik, perawatan yang penuh perhatian, matahari, dan air untuk menghasilkan buah yang baik. Sama pentingnya, gulma dan hama harus sering disingkirkan.

Bagi umat Kristiani, Prapaskah adalah masa di mana kita berlatih untuk waspada terhadap perbuatan dan pikiran kita, memperkuat kebajikan dan melemahkan keburukan. Serigala yang kita beri makan akan menang. Kelaparan si jahat melucuti kekuasaannya atas kita dan memungkinkan yang baik untuk berkembang - mengosongkan diri untuk memberi ruang bagi Yang Ilahi. Apa satu hal penting yang Tuhan undang untuk kita puasa dan makan di masa Prapaskah ini?

Di Gurun

Orang Kristen dipanggil untuk merayakan Prapaskah dengan doa, puasa, dan sedekah. Bukan suatu kebetulan bahwa pembacaan Injil untuk hari Minggu pertama Prapaskah dimulai dengan padang gurun; lagi pula, Prapaskah empat puluh hari adalah perayaan empat puluh hari Yesus di padang gurun.

Kitab Suci dipenuhi dengan kisah-kisah transformasional di padang gurun. Perjanjian Lama menceritakan kisah-kisah tentang umat pilihan Tuhan yang dibawa ke padang gurun, di mana mereka menjalani pemurnian dan belajar untuk percaya pada pemeliharaan Ilahi. Gurun adalah tempat peralihan, di mana umat Allah meninggalkan diri mereka yang lama dan berubah sebelum memasuki tanah perjanjian.

Padang gurun juga menandai permulaan Injil: Yesus, yang dibaptis di sungai Yordan dan dikukuhkan sebagai Putra Terkasih, segera didorong oleh Roh keluar ke padang gurun. Urgensinya jelas; pengaturan, tidak salah lagi. Yesus menanggapi undangan itu dengan menyendiri di padang gurun, melepaskan diri dari dunia untuk menyendiri dengan Bapa-Nya. Puasa daging dan makan jiwa selama empat puluh hari mempersiapkan dan mengubahnya, dan godaan Setan tidak menguasainya. Dia tidak membawa apa-apa selain kepercayaan dan ketersediaannya yang lengkap, tidak disibukkan dengan apa pun kecuali Bapa.

Kita juga diundang oleh Roh untuk memasuki padang gurun kehidupan kita sehari-hari; kita dipanggil untuk memperhatikan banyak gangguan yang memenuhi hidup kita. Yesus mengajarkan kepada kita apa itu. Dia mengungkapkan godaannya di padang gurun untuk kita pelajari dari: Kepemilikan, Kekuasaan, dan Kebanggaan.

"Tiga P" - harta benda, kekuatan yang kita pegang atas orang lain, dan kebanggaan dalam bentuk dan bentuknya yang halus - telah berfungsi sebagai perlindungan dan keamanan kita dan sering terjalin secara mendalam ke dalam identitas dan keberadaan kita. Kami menghadapi perangkap ini setiap hari. Mereka telah menjadi bagian integral dan penting dari hidup kita, sedemikian rupa sehingga kita bahkan mungkin tidak menyadari keterikatan kita dengan mereka. Bahkan jika kita menyadari keterikatan, kita merasa sulit untuk melepaskannya.

Melepaskan "tiga P" (material Possessions, the Power we hold over others, and Pride) tidak pernah mudah. Ini membutuhkan perubahan mendasar – sebuah metanoia – perubahan hati sepenuhnya terhadap Tuhan. Memang, transformasi dari keterpusatan pada saya menjadi keterpusatan pada Tuhan tidak datang secara alami. Dibutuhkan waktu dan disiplin, yang mengharuskan kita perlahan-lahan menyingkirkan apa yang menahan kita untuk bergerak menuju Tuhan. Melalui latihan rohani Prapaskah, Gereja mengingatkan kita akan pentingnya asketisme (pertapaan) untuk mencapai transformasi ini. Pertapaan bagi jiwa sama halnya dengan olahraga bagi tubuh, dan puasa adalah pemangkasan, pelonggaran ikatan yang tidak perlu.

Apa undangan agar kita pangkas? Ketika kita mulai mengamati, memeriksa, dan membuat daftar apa yang mengisi waktu luang kita dan hal-hal yang melekat pada kita, kita akan segera menemukan banyak pilihan untuk dipertimbangkan. Beberapa mungkin lebih sederhana dan lebih nyata, seperti tidak minum kopi, daging, berbelanja, membatasi paparan kita pada perangkat elektronik dan media sosial, atau hasrat tidak sehat lainnya. Beberapa mungkin lebih sulit, seperti dengan tulus menyapa dan menghabiskan waktu bersama seseorang yang lebih kita hindari, melepaskan kemarahan kita terhadap individu tertentu yang telah mengecewakan kita, atau berdoa dan memberkati seseorang yang telah menyakiti kita.

Mungkin kita bisa memulainya dengan mengamalkan asketisme baru Prapaskah ini: sesuatu yang wajar, yakni tidak terlalu mudah sehingga tidak ada otot-otot rohani yang terbentuk, namun tidak terlalu sulit agar tidak patah semangat. Idola mini mana pun yang kita pilih untuk dilepaskan akan membebaskan pikiran dan waktu kita untuk berdoa dan berkontemplasi. Bahkan jika kita goyah dan jatuh, kita dapat yakin bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan Tuhan selain keinginan tulus kita untuk meniru dan berjalan bersama-Nya di padang gurun kita sendiri.

Gurun tandus, yang menawarkan kesunyian, kesunyian, dan kehampaan kepada para pengunjungnya, adalah tempat yang sunyi di mana seseorang bertemu dengan Kristus secara mendalam: “Karena itu, sekarang Aku akan membujuknya dan membawanya ke padang gurun, dan berbicara dengan lembut kepadanya” (Hos 2:14 ). Kerinduan yang begitu mendalam bagi kita, Dia yang menunggu kita dengan penuh semangat dan sabar. Biarkan Dia membebaskan kita dari belenggu dunia dan mengisi ruang kosong dengan kelembutan-Nya, dan hati kita melompat kegirangan dengan isyarat-Nya, "Ayo, cintaku, datang ..."


(Rosina Simon)


Read More
Redaksi E-Bulletin Redaksi E-Bulletin

Able Not to Sin

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Secara kebetulan saya membaca sebuah teori yang sangat menarik, yang mengatakan bahwa ada tiga tipe manusia, yakni yang tercipta:

  • Not able to sin (tidak bisa berdosa)

  • Not able not to sin (tidak bisa luput dari dosa)

  • Able not to sin (mampu menolak dosa).

Siapa sajakah mereka, dan termasuk tipe yang manakah kita ?.

Allah menciptakan Adam dan Hawa serupa dengan Allah sendiri yang adalah sempurna. Ketika hidup di Taman Firdaus, mereka hidup bahagia bersama Allah bapa, dan tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak dan hati mereka untuk melawan kehendak dan perintah Allah yang maha kasih. Mereka diciptakan untuk hidup bahagia selamanya bersama Allah Bapa, sehingga mereka tercipta untuk tidak bisa berbuat dosa (not able to sin).
Namun kemudian setan datang menggoda dan mengelabui mereka sehingga mereka “jatuh” ke dalam dosa asal.


Setelah itu, setiap manusia yang hidup di dunia ini tidak lagi terlahir suci. Manusia mewarisi dosa asal itu, sehingga meskipun manusia berusaha sekuat tenaga untuk hidup suci, tetap saja mereka memiliki dosa. Sungguh, setiap manusia yang terlahir di dunia ini tidak bisa untuk tidak berdosa (not able not to sin).
Menurut iman Katolik, hanya ada satu pengecualian akan hal ini, yakni Bunda Maria, ibu Yesus. Bunda Maria adalah perawan suci yang dikandung tanpa dosa, the Immaculate, yang dipilih, “dipersiapkan” dan dipantaskan Allah untuk mengandung Putera Allah sendiri yang adalah suci dan kudus.


Bagi kita yang telah mengenal dan percaya akan Kristus Yesus sebagai Sang Juru Selamat, kita adalah ciptaan baru. Dalam 2 Kor 5:17
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Allah menjanjikan kehidupan kekal, dan menuntun kita kepada pembaptisan dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
Yesus telah berkata ”Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yoh 11:25)”.

Dalam Kristus, hidup kita dimampukan untuk menjadi sempurna. (Matius 5:48) “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Dalam tuntunan Roh Kudus, kita menjadi manusia yang “able not to sin', manusia yang mampu menolak dosa.


We are able not to sin. Maka mari kita selalu menolak dan menjauhi dosa. Masa Prapaskah ini adalah the acceptable time - masa yang baik untuk memperbaiki hidup kita lewat doa, puasa, dan amal kasih (Pray, Fast, and Charity). Mari kita memberikan diri hidup dalam tuntunan Roh Kudus dan menyerahkah hidup kita sepenuhnya kepada Kristus. Semoga, setelah hidup di dunia ini berakhir, kita akan bangkit bersama Kristus, dan hidup dalam keabadian Sorga, bersama para malaikat dan orang kudus, memuji dan memuliakan Allah Bapa yang maha mulia, kini dan sepanjang segala masa.


Selamat menjalani masa prapaskah dengan hati yang selalu dipenuhi cinta kasih kepada Allah dan sesama. Amin.

Read More
Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin

The Purpose of Life - Tujuan Hidup

“Tuhan menciptakan aku, supaya aku mengenalNya, mencintaiNya, dan melayaniNya di dunia ini dan bahagia bersamaNya selamanya di Sorga”

Pernahkah anda bertanya : “Apakah sebetulnya tujuan hidup ini ?”

Dalam Katekismus lama ada pertanyaan, “Mengapa Tuhan menciptakanmu?”

Jawabannya: “Tuhan menciptakan aku, supaya aku mengenalNya, mencintaiNya, dan melayaniNya di dunia ini dan bahagia bersamaNya selamanya di Sorga.”

Di sini lah, dalam hanya 18 kata ini, adalah rangkuman seluruh alasan keberadaan kita di dunia.
Yesus bahkan menjawab pertanyaan itu dengan lebih singkat lagi: “Aku datang supaya kamu memiliki hidup dan memilikinya lebih berkelimpahan” (Yohanes 10:10)



Rencana Tuhan untuk Anda sederhana.
Bapa yang maha pengasih ingin memberimu semua hal yang baik - terutama kehidupan kekal. Yesus rela mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita semua dari dosa dan keterpisahan kekal dari Allah yang disebabkan oleh dosa (KGK 599-623).

Ketika Dia menyelamatkan kita, Dia menjadikan kita bagian dari Tubuh-Nya, yaitu Gereja (1 Kor.12:27-30). Dengan demikian kita menjadi bersatu dengan Dia dan dengan orang-orang Kristen di manapun (di bumi, di surga, di api penyucian).

Source: Catholic Answer booklet

Read More